Pengrusakan DAS Ciliwung Depok

Pengrusakan Daerah Aliran Sungai Ciliwung terus berlangsung baik dari Hulu di Puncak Bogor sampai Hilir kota Jakarta. Pemerintah selaku penguasa dan pengelola Sumber Daya Alam seperti Sungai dan Sumber Daya Alam lainnya seperti melempem dan tidak bergigi menghadapi pengrusakan demi pengrusakan yang mengatasnamakan pembangunan dan reklamasi.

Lagi-lagi akhirnya seperti cerita basi di negeri ini, rakyat kecil dan masyarakat banyak yang merasakan akibatnya seperti banjir, tanah longsor,  pendangkalan sungai, dan rusaknya satu ekosistem sungai.

Dan bila bencana menghampiri, seperti cerita basi lainnya di negeri ini kembali terulang, bahwa semua ini adalah  akibat “Bencana Alam” dan alam kembali yang disalahkan tanpa berusaha mengoreksi apa yang sedang terjadi dan berusaha belajar dari kesalahan- kesalahan terdahulu yang mengakibatkan bencana.

Tulisan dikutip dari laporan Taufiq Des

Kekuatiran warga sejak awal pembangunan Taman Anyelir 3 (TA 3) yang merupakan bagian dari kawasan Grand Depok City (dh Kota Kembang) ,Depok, Jawa Barat terbukti. Jumat,20 Mei 2011 lalu salah satu sisi tebing Perumahan Purimulya ambrol akibat dreasnya hujan yang turun saat itu, menyusul  longsor yang menerjang sebelumnya pada sisi tebing di kawasan RT 04 RW 08.

Aliran air yang mengerus dasar tebing meruntuhkan tanah miring di sampingnya kemudian membawa lumpur, sampah dan tanaman ke dalam  aliran air sungai ciliwung.
Sekita 2 HA keawasan yang dulunya persawahan tempat resapan air dan tempat  berkumpulnya air dari dua buah  rawa disekitar Kebon Duren sebelum masuk ke aliran sungai Ciliwung telah diuruk dengan kedalaman setinggi 6-12 Meter.
Perlu dipertanyakan keterpaduan  kerja antara pejabat yang berwewenang dengan pengusaha dalam menata kewasan kerjanya… Bukankah  ini menyangkut masa depan anak cucu kita, apalagi Depok dikatakan sebagai daerah penyangga ibukota Republik Indonesia

Sumber : Kompasiana